Generasi yang Hilang

Malam hari sekitar pukul 10.00 atau hingga terkadang pukul 01.00 dinihari, begitu sering terdengar lantunan “Meu Rukun” (bahasa Aceh) atau semacam bacaan syair tanya jawab (monolog) agama dalam bahasa aceh yang dibawakan oleh para teungku di dayah yang biasanya sering dibawakan di kampung-kampung yang masih agak kurang dari “modernisasi global”. Saya sangat menyukai walau terkadang terasa agak begitu riuh karena menggunakan mikrofon, namun indah didengar dikala merdu suara yang membawakannya.

Dulu, saat konflik melanda Aceh terkadang rasa aman telah hilang dari kehidupan, sehingga masyarakat banyak terutama pemuda begitu enggan untuk “eksis” dihiburan yang tidak jelas. Saya begitu ingat disaat dimana pemuda-pemuda dikampung saya dimasa itu begitu senang mengaji Al Qur’an, mempelelajari kitab-kitab peninggalan ulama dahulu hingga terkadang semangatnya hingga larut malam yang memberikan gambaran bahwa mereka kelak akan menjadi generasi qur’ani yang akan melanjutkan perjuangan para ulama yang telah tiada dan risalah Rasul SAW.

Waktu terus berlalu, dan roda kehidupan berjalan terus. Banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi, banyak cita-cita yang akhirnya tak sampai, dan banyak harapan-harapan yang tak tercapai, dan akhirnya kesalihan di masa muda menjadi tak berbekas lagi. Cobalah kita fikirkan, bagaimana jika menjadi mereka. Sekolah paling sampai SMA, setelah itu, ekonomi orang tua yang pas-pasan tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, tak ada sesuatupun yang harus dikerjakan, cari kerja sulit, suasana konflik, penganguran akhirnya menjadi satu-satunya pilihan yang tak mungkin dihindari.

Sulit, nggak ada pilihan. Mereka bukan pula sosok yang mempunyai harapan besar seperti saya, kuliah, dan kesempatan kerja paling tidak masih ada. Masa depan sepertinya bukan lagi milik mereka, tapi milik kita-kita yang kuliah ini, hingga kemudian rasa frustasi ini seringkali diungkapkan dengan begadang, dan keluyuran tak karuan. Sedih pula saya rasanya. Mungkin apa yang telah di lakukan para orang tua kami di dayah/surau dengan Iqra’ nya, yang mendidik anak-anak muslim dekat dengan Al qur’an, menjadi tak  tertindak lanjuti lagi. Seringkali anak-anak muda akhirnya menjadi lepas kendali di kemudian hari.

Problematika seperti ini, saya yakin ada di banyak tempat, bukan hanya di kampung saya saja. Dan tentu perlu pemecahan, sekali lagi perlu pemecahan. Mereka adalah generasi-generasi muslim yang hilang, yang mustinya kita temukan kembali. Kita seringkali begitu gembira jika ada orang yang masuk Islam, tapi kita seringkali tak sedih ketika melihat bayak generasi muslim yang hilang, hanya karena tak punya masa depan. Lalu tanggung jawab siapa ini. Pemerintah, pasti iya. Percuma memberi penyuluhan narkoba, jika pemerintah tak mengusahakan masa depan mereka.

Karena mereka adalah orang-orang frustasi yang butuh kepastian hidup, meski dalam tingkat yang wajar saja. Kedua, tentu kita, orang yang disebut-sebut masih mempunyai masa depan. Karenanya mulailah berfikir tentang mereka, karena sesungguhnya mereka adalah muslim pula, aset ummat ini. Mereka adalah bukan orang lain bagi kita. Kita tidak boleh berdiam diri, dengan berselancar dalam kenikmatan-kenikmatan spiritual kita. Tentu tak arif jika akhirnya kita hanya menyalahkan mereka, karena sebenarnya kita perlu berfikir, dan berikhtiar, atau paling tidak bercita-cita untuk membawa mereka kembali ke dalam pangkuan Islam. Semoga  saja.

Wallahu a’lam

Mushalla Al Ihsan FP Unsyiah, Rabu 1 Februari 2012

Muri Wandany

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: