Produktivitas Pertanian Di Aceh

Bidang Pertanian masih menjadi usaha andalan bagi penduduk Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Dimana pada tahun 2000 menyumbang sekitar 21 persen terhadap total PDRB dan pada tahun 2004 menyumbang sekitar 24 persen. Peningkatan peranan dalam pembentukan PDRB Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam menunjukkan bahwa peran Pemerintah Daerah beserta seluruh masyarakat Aceh serius dalam memelihara mantapnya ketahanan pangan dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat.

Sasaran pembangunan bidang pertanian adalah pemantapan ketahanan pangan yang bercirikan terpeliharanya swasembada pangan secara dinamis dan berkelanjutan serta pengembangan sistem agribisnis dengan penguasaan teknologi pasca panen dan pemasaran hasil. Namun demikian masih terdapat permasalahan klasik pembangunan bidang pertanian seperti :

  • Belum maksimalnya pemanfaatan potensi sumberdaya yang tersedia secara efektif dan efisien, disamping itu sarana dan prasarana penunjang juga belum memadai secara optimal.
  • Alih teknologi pertanian seperti penggunaan benih bermutu dan sistem kultur teknis belum merata serta kelangkaan dan mahalnya sarana produksi seperti pupuk, pestisida dan alat mesin pertanian
  • Serangan hama dan penyakit merupakan permasalahan serius dalam peningkatan produksi pertanian TPH, perkebunan dan peternakan.
  • Bencana alam tsunami dan kekeringan menyebabkan rusaknya lahan dan sarana/prasarana penunjang sehingga produksi pertanian secara umum tidak mencapai sasaran dan target seperti yang diharapkan.

Berikut ini juga masalah lain yang terdapat dalam pengembangan pertanian di Propinsi Aceh adalah :

1)    Produksi rendah

Produksi komoditas pertanian yang diusahakan petani masih rendah dibandingkan dengan potensi genetik dan fisik komoditas tersebut. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti iklim (curah hujan, temperatur, kelembaban) dan tanah (tekstur, kedalaman efektif, kesuburan,  pH, drainase) yang tidak sesuai dengan komoditas yang diusahakan.

2)    Potensi sumber daya pertanian yang ada belum termanfaatkan secara maksimal

Masih cukup luas lahan potensial untuk pengembangan pertanian di Propinsi Daerah Istimewa Aceh yang belum dimanfaatkan. Hal ini disebabkan beberapa faktor salah satu diantaranya adalah belum adanya informasi tentang keadaan agro-ekologi wilayah tersebut seperti iklim dan tanah. Informasi agro-ekologi ini penting untuk menentukan jenis komoditas yang sesuai dikembangkan di suatu daerah.

3)    Upaya pengalihan teknologi sering mengalami kegagalan

Teknologi yang dihasilkan oleh Balai-Balai Penelitian, dan dirakit oleh BPTP/LPTP dalam lima tahun terakhir sudah cukup banyak, akan tetapi upaya pengalihan teknologi tersebut kepada petani sering mengalami kegagalan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya kurangnya informasi yang dapat digunakan oleh peneliti, penyuluh, perencana dan pelaku pembangunan pertanian untuk memahami dengan seksama kondisi agro-ekologi, sosial ekonomi dan budaya yang ada di daerah sasaran. Sehingga teknologi baru yang diintroduksikan tidak berlanjut setelah kegiatan berakhir.

Pembangunan Bidang Pertanian untuk lima tahun kedepan masih perlu ditingkatkan, terutama berkaitan dengan masalah produktivitas karenanya pengelolaan bidang pertanian mengarah ke pertanian dengan sistim agribisnis.

Oleh karena itu dibutuhkan peran pemerintah dalam membina usaha pertanian dan holtikultura. Lembaga yang berwenang mengelola pembangunan bidang pertanian mempunyai tugas pokok membina usaha dan kawasan. Fungsi yang harus dilakukan berupa: perencanaan, pengkoordinasian, pembinaan dan pengembangan usaha dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan bidang pertanian.

Saat ini Provinsi Aceh luas lahan tegal/ kebun ladang atau huma seluas 530.638 ha. Dari luas lahan tersebut, hanya sekitar 2.593 ha baru ditanami padi gogo ha. Sedangkan sisa lahan yang masih belum termanfaatkan sekitar 528.045 ha. Mengoptimalkan kembali lahan-lahan kering yang memiliki potensi yang besar untuk meningkatkan produksi beras sehingga tercapainya ketahanan pangan

Menurut luas lahan secara umum, sektor pertanian didominasi oleh sub sektor perkebunan ketimbang subsector tabama. Total luas lahan perkebunan mencapai sekitar 1.103.803 ha sedangkan luas lahan persawahan hanya sebesar 390.366 (Aceh dalam Angka 2005). Sedangkan menurut sumbangan terhadap PDRB sektor pertanian, sektor pertanian didominasi oleh sub-sektor tabama (34,36%) sedangkan sub-sektor perkebunan menempati peringkat kedua dengan sumbangan sebesar 20,29%. Artinya perhatian pada sektor pertanian dapat difokuskan pada kedua sub-sektor ini.

Produksi padi di Aceh pada tahun 2004 tercatat sebesar 1.552.083 ton gabah kering giling, sedangkan tahun 2003 sebesar 1.547.499 ton GKG. Tingginya produksi pada tahun 2004, karena bertambahnya luas panen dari 367.636 hektar pada tahun 2003 menjadi 370.960 hektar pada tahun 2004, sedangkan dari segi produktivitasnya justru tahun 2004 lebih rendah dari tahun 2003 dengan rata-rata produksi 42.09 ton per hektar tahun 2003 menjadi 41.84 ton per hektar tahun 2004.

Kawasan penghasil padi terbesar di Aceh adalah Aceh Utara dengan produksi 232.000 ton lebih, diikuti Pidie 172.000 ton lebih, Aceh Timur 171.000 ton lebih, Aceh Besar 162.000 ton lebih, Bireuen 161.000 ton lebih, Nagan Raya 108.000 ton lebih, Aceh Tamiang 100.000 ton lebih, Aceh Tenggara 86.000 ton lebih, dan Aceh Selatan 59.000 ton lebih.

Produksi tanaman di Aceh dapat dibagi menjadi 2 kelompok secara luas: padi dan palawija. Padi kemudian dapat dibagi kembali menjadi padi dengan irigasi dan padi tadah hujan. Di wilayah perdesaan, kebanyakan rumah tangga memiliki kepemilikan lahan pertanian sekitar 0,75 hektar lahan sawah dan sekitar 0,5 hektar lahan kebun/ladang.

Secara umum, padi sawah mendominasi persediaan pangan dibandingkan dengan padi ladang. Disisi lain terjadi peningkatan Indeks Penanaman (IP) di beberapa Kabupaten karena dukungan irigasi dan curah hujan yang tinggi, sangat mendukung penanaman pada lahan tadah hujan. Secara umum, padi sawah mendominasi persediaan pangan dibandingkan dengan padi ladang. Disisi lain terjadi peningkatan Indeks Penanaman (IP) di beberapa Kabupaten karena dukungan irigasi dan curah hujan yang tinggi, sangat mendukung penanaman pada lahan tadah hujan.

Selain tanaman pangan padi, jenis tanaman palawija yang diusahakan antara lain jagung, kacang kedelai, kacang tanah, ubi kayu, dan ubi jalar.Data perkembangan produksi Palawija Provinsi Tahun 2000-2004.

Baca Selengkapnya: Produktivitas Pertanian Di Aceh 

2 Balasan ke Produktivitas Pertanian Di Aceh

  1. HeruLS mengatakan:

    Yang penting, jangan sampai untuk kebutuhan pangan saja harus mengimpor dari luar Aceh. Potensi sumber daya alam Aceh sangat hebat. Lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik.

  2. Veryy Cipenk mengatakan:

    mantap…
    oya boleh g minta data pertanian di aceh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: