Zakat Pertanian Berpotensi Bangun Ekonomi Petani

Zakat pertanian berpotensi untuk membangun kekuatan ekonomi petani, meski pada kenyataannya sebagian besar petani belum mengetahui ada kewajiban yang harus dikeluarkan dari hasil pertaniannya.

“Hasil pertanian merupakan salah satu kelompok harta yang diwajibkan untuk dikeluarkan zakatnya,” kata Wakil Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ir Siti Yusi Rusimah MS di Yogyakarta, Rabu.

Menurut dia, dengan mayoritas penduduk sebagai petani dan beragama Islam, penanganan zakat pertanian sepantasnya mendapat perhatian bersama. Ia mengatakan, lemahnya perhatian terhadap penanganan zakat pertanian mengakibatkan rendahnya kesadaran berzakat di kalangan petani yang telah memenuhi batas minimal (nishab).

“Hasil penelitian yang saya lakukan menunjukkan hampir tidak ada pemasukan zakat pertanian di Badan Amil Zakat Infak dan Sedekah (Bazis) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan di beberapa lembaga amil zakat yang beroperasi di daerah ini,” katanya.

Kondisi itu terkait dengan rendahnya pemahaman petani terhadap ketentuan zakat pertanian. Ketidaktahuan terhadap kewajiban zakat pertanian, tidak adanya lembaga yang menangani pengumpulan zakat, dan tidak adanya kebiasaan masyarakat untuk memberikan zakat, menjadikan petani tidak pernah memenuhi kewajiban zakat pertanian.

Ia mengatakan, kondisi itu juga disebabkan adanya anggapan di masyarakat bahwa zakat pertanian tidak relevan dengan kondisi petani Indonesia. Dengan dalih petani berlahan sempit dan miskin, membicarakan masalah zakat pertanian cenderung dipandang kurang relevan.

“Padahal dengan rata-rata produksi enam ton per hektare dan luas kepemilikan lahan 0,25 hektare, petani berpotensi mencapai produksi 15 kuintal per musim yang lebih besar dari batas minimal diwajibkannya zakat, yakni sebesar 13,5 kuintal gabah menurut standar Departemen Agama.

Menurut dia, sebenarnya zakat pertanian juga tidak diwajibkan bagi semua petani, tetapi hanya yang telah memenuhi batas minimal (nishab). Zakat termasuk zakat pertanian merupakan kewajiban manusia
untuk membersihkan dan menyucikan harta seperti termuat dalam Al Quran surat At-Taubah ayat 103.

“Artinya zakat pertanian diwajibkan hanya bagi petani yang telah memenuhi nishab. Tidak semua petani itu miskin, sehingga mengabaikan penanganan zakat pertanian, yang berarti mengabaikan hak sebagian petani muslim untuk menunaikan kewajibannya,” katanya.

Sumber: Republika.co.id

Satu Balasan ke Zakat Pertanian Berpotensi Bangun Ekonomi Petani

  1. Ir. Unang Rohadi mengatakan:

    Ya Bu, Zakat Pertanian memang potensial untuk segera dikelola secara profesional guna kepentingan dan kebutuhan pembangunan Ekonomi Masyarakat Petani khususnya. Kepemilikan Mayoritas Lahan Sempit bukanlah sebagai Stoper atau penghalang untuk maju kedepan (yang lahannya >0,25 Ha juga banyak kok), tapi itu merupakan suatu “tantangan”, peluang dan kesempatan bagi kita untuk “berkreasi” serta ber-inovasi dalam menciptakan Bibit unggul, serta Sistem dan Konsep Design Pertanian Modern yang Futuristik, Koprehensif serta bernilai “strategis” (butuh Research & Perencanaan Program). Hal ini antara lain bertujuan untuk memperoleh Hasil dan Manfaat yang “plus” secara jangka panjang, sehingga Standar Nishab sebesar 13,5 Kwintal GKP/panen dari Kementrian Agama TIDAK MENJADI KENDALA lagi bagi Petani untuk dapat berzakat atau menjadi Muzzaki. Dimana hasil pengumpulan zakat ini juga akan dikelola dan dimanfaatkan secara Aktif dalam Kemitraan Usaha yang dijamin keamanannya (oleh Asuransi). Sistem Pengelolaan Zakat yang bersifat produktif dan bergulir ini berfungsi sebagai “ruh” pembangunan ekonomi petani secara jangka panjang (Zakat dapat tetap Utuh, Tumbuh serta Berkembang Dari, Oleh, dan Untuk Petani). Namun untuk mencapai hal tersebut diatas tidaklah mudah, sangat dibutuhkan dukungan positif semua pihak agar Rintisan Program ini dapat diterima oleh Masyarakat, Petani, Pemerintah dan Agama. Mottonya al. “maju selangkah itu lebih baik daripada diam di tempat”.
    Demikian ibu Yusi, selamat berjuang, kami mendukung secara nyata dalam pelaksanaan Pilot Project kami dalam Kemitraan Usaha dengan Petani pada Penanaman Padi Organik Varietas baru Bulir 400 dengan target hasil panen 8 s/d 12 Ton/Ha (belum diberi nama/ akan dipatenkan) yang ada diwilayah DIY-JATENG sesuai Konsep diatas. Untuk itu mohon juga dukungan dan do’anya agar pilot project ini dapat berjalan dengan Lancar, Aman, Nyaman, dan menguntungkan semua pihak, amiin.
    Selanjutnya semoga Lembaga Zakat Pertaniannya dapat segera dibentuk, termasuk Asuransi Usaha Pertanian dan Bank Khusus Pertaniannya.
    Salam hamemayu hayuning buwana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: